Oleh-oleh Umroh (part 2)
November 20, 2008 by: AndiHMSubhanallah…
Hanya itulah kata yang dapat menggambarkan kejadian itu. Lo kok ? ? ?.
Begini kejadian yang sangat sederhana, namun membuat saya harus kehilangan kata-kata lain untuk menggambarkannya.
Posting “Oleh-oleh Umroh“ merupakan pengalaman umroh bulan Juli tahun 2007, dimana pada waktu itu sempat terlontar untuk umroh bersama-sama lagi (dengan kelompok-kelompok yang lain) setahun akan datang. Suatu hari di awal bulan Mei tahun 2008 (belum genap setahun) ada pembicaraan dikeluarga kami yang intinya, kedua orang tua saya ingin merayakan hari perkawinan mereka di Tanah Suci sambil beribadah Umroh.
Saya tidak tau dengan pasti apa maknanya, tetapi semua kejadian yang saya alami terasa begitu “kebetulan”. Pertama, waktu untuk memutuskan untuk berumroh mepet, tetapi ternyata masih bisa ikut pada jadwal umroh yang sesuai dengan tanggal perkawinan karena ada peserta lain yang mengundurkan diri. Kedua, kami (seluruh keluarga besar) mengantar orang tua kami ke bandara, bisanya hanya didrop oleh supir dan semuanya sudah di urus oleh biro perjalannan umrohnya. Ketiga, saya melihat group peserta umroh yang turun dari salah satu bus ternyata adalah group yang saya kenal cukup baik, dimana ibu Nekat termasuk didalamnya.
Entah karena apa, saya begitu antusias untuk menemui ibu Nekat dan begitu pula sebaliknya pada saat ia melihat saya. Saya sangat ingat kata-kata yang pertama ia lontarkan pada saat itu “nang, mimih wes tuku crp” (nak ibu sudah membeli crp)… wah, ternyata, walaupun Ibu Nekat sudah membeli sebuah mobil honda CRV, dia masih tetap tidak bisa mengucapkan nama jenis mobil itu dengan baik. Kemudian kami (saya, istri saya dan Ibu Nekat) terlibat pembicaraan yang tidak terlalu lancar, dimana saya dan istri saya hanya paham sedikit-sedikit bahasa daerah Ibu Nekat, sedangkan Ibu Nekat hanya bisa berbahasa Indonesia campuran (ingat sampai pada tahap ini, Ibu Nekat hanyalah seorang wanita biasa yang hanya mengerti bahasa daerahnya saja dan buta huruf).
Secara garis besar, pembicaraan kami :
- Dari segi usahanya (pedagang ikan besar), ibu Nekat sudah berhasil menambah armada kapal ikannya menjadi 6 buah dan juga menambah beberapa kedaraan operasionalnya (mobil bak terbuka).
- CRV, merupakan mobil pribadi ketiganya. Ironisnya dia lebih suka menggunakan kendaraan operasionalnya untuk kegiatan sehari-harin. “Mimih punyeng nang” (ibu pusing nak) katanya mengenai mobil pribadi tersebut, AC nya dingin sekali, tambahnya.
- Dibidang spiritual, selain bertekat untuk setiap tahun menjalankan ibadah umroh, ibu Nekat hampir tidak pernah memegang uang “cash” karena selalu dihamburkan untuk mereka “yang lebih membutuhkan” katanya. Kegiatan ini telah dilakukannya sejak dia memperoleh uang hasil keringatnya untuk pertama kali. Sedikit menggoda, saya bertanya, “Mimih bayar biaya umroh dari mana?”, “beli weruh nang” (ngak tau nak), setiap kali ketua kelompoknya mengajak untuk berumbroh, pasti selalu ada uang cash yang baru didapatkannya, tambahnya lagi.
- ‘Gosip time’ beberapa kali terganggu oleh permintaan ibu Nekat kepada saya untuk men-dial nomor telpon beberapa saudaranya dikampung melalui telpon genggam yang dimilikinya (ironisnya, dia hanya tau mempergunakan satu tombol untuk menerima telpon saja, tombol lain and feature canggih lainya di hp tsb, tau ah elap). Isi pembicaraan ibu Nekat dengan saudara2nya ternyata lebih banyak didominasi oleh keteledoran dan kecerobohan ibu Nekat, seperti misalnya gas yang habis karena kompor tidak dimatikan atau bagaimana dia tersadar kalau 3 buah kunci mobil pribadinya terbawa di tas plastik yang disimpan di kopor jinjingnya (karena ngak pernah dipake kale).
Tanpa terasa gosip time berakhir karena peserta umroh harus segera menuju ruang tunggu keberangkatan. Banyak sekali pelajaran yang saya dapat dari kejadian itu, namun pada kesempatan ini saya coba hanya mengintisarikan dua topik :
- ‘Kebetulan’ adalah suatu peluang yang tak terduga. Seringkali peluang datang menghampiri kita, tetapi tidak kita manfaatkan, malah kita membuangnya begitu saja. Kebetulan sering kali terjadi dan sesering itu pula kita melupakannya. Cobalah untuk menpergunakan kebetulan, karena kebetulan tidak mungkin terjadi tanpa adanya usaha.
- ‘Keyakinan’ sangat mudah untuk diucapkan, namun pernahkah kita mempertanyakan seberapa besar usaha yang kita lakukan untuk sebuah keyakinan. Ibu Nekat merasa yakin betul bahwa menghamburkan uang untuk mereka yang lebih membutuhkannya akan menghasilkan sesuatu yang lebih dari usaha yang dilakukannya. Dari ucapannya “Nang, kalau kita menanam padi dengan niat yang baik, nanti hasilnya akan berupa padi yang melimpah, bukan pelem gedong (kebetulan dia juga punya kebon mangga gedong khas daerahnya). “Yakini, Lakukan (usaha) dan Panen Hasilnya”.
Sekali lagi, sampai pada tahap ini, ibu Nekat hanyalah wanita biasa yang hanya mengerti bahasa daerahnya dan buta huruf. Saya harus banyak introspeksi, mudah-mudahan usaha yang dilakukan ibu Nekat demi sebuah keyakianan dapat saya tiru, dimana selama ini saya terlalu banyak berganti-ganti keyakinan karena saya sebenarnya tidak yakin.
“Yakin dan Usaha” akan menghasilkan “Kebetulan”.






dari banyak cerita, sebenarnya kita akan maklum karena banyaknya keajaiban dan kejadian aneh menyangkut ibadah haji atau umroh. terkadang disitulah logika kita akan dibenturkan dengan keyakinan secara agama, sampai akhirnya kita sadar bahwa banyak kejadian dalam hidup ini yang tidak selalu dapat dijabarkan secara melulu menggunakan akal. beruntunglah jika kita termasuk orang-orang yang menyaksikan keajaiban itu dalam hidup kita. semoga membawa hikmah dan menambah keimanan kita terhadap Allah SWT….semoga…
InsyaAllah segala suatu niat baik itu ada saja jalannya..seperti ibu Nekat ini pada waktunya Umroh ada saja jalan datangnya rizki untuk itu,hanya saja kita atau sebagian orang tidak menyadari bahwa setiap kita memberi pasti akan datang yang jauh lebih banyak baik dalam jumlah maupun dalam berkah.Sukses Bung Andi…
kejadian-kejadian terjadi pada ibu nekat menurut pendapat saya itu karena keyakinan yang sangat yakin sehingga membuat apa yang diinginkan akan tercapai. kesimpulannya, modal utama orang untuk mencapai sesuatu adalah yakin, serta ikhlas, bapak andi goodluck, moga dapat umroh selalu and naik haji tiap tahun
alhamdulillah udah umroh…………